Kiblat ilmu ekonomi dan terapan sepertinya masih menghadap ke Amerika Serikat. Dari 79 laureates (penerima) Nobel Ekonomi, 61 di antaranya terafiliasi dengan universitas-universitas di Amerika Serikat.
University of Chicago, yang berlokasi di Chicago, Illinois, mencetak penerima terbanyak. Ada 13 penerima yang tercatat terafiliasi dengan kampus yang justru berada di peringkat ketujuh universitas terbaik untuk jurusan ekonomi di dunia tahun 2017 versi situs Top Universities.
Richard H Thaler, salah satu profesor dengan julukan "Bapak Ekonomi Perilaku (Behavioral Economics)" yang baru saja dianugerahi Nobel Ekonomi pada 9 Oktober 2017, juga masuk dalam jajaran 13 penerima yang terafiliasi dengan University of Chicago.
Beberapa nama penerima Nobel Ekonomi lain dari universitas ini adalah pakar ekonomi dinamis, Lars Peter Hansen dan Bapak Ekonomi Modern, Eugene F. Fama (2013); pakar teori ekonomi permainan, Roger B. Myerson (2007); dan pakar makroekonomi, James J. Heckman (2000).
Umumnya peraih Nobel Ekonomi yang terafiliasi dengan University of Chicago adalah para akademisi yang masih aktif mengajar ataupun peneliti yang masih aktif mengembangkan praktik-praktik ilmu ekomoni dalam berbagai bidang.
Pencapaian University of Chicago ini mengungguli Princeton University (peringkat 6 universitas terbaik untuk jurusan ekonomi di dunia), Harvard University (peringkat 2), dan Massachusetts Institute of Technology/MIT (peringkat 1).

Tiga universitas yang disebut di atas, masing-masing mencetak enam, enam, dan lima penerima Nobel Ekonomi.
Universitas Amerika Serikat lainnya yang turut mencetak penerima Nobel adalah Colombia University, New York (empat penerima), Yale University, New Haven (tiga penerima), New York University (dua penerima), dan Stanford University (dua penerima).
Di luar benua Amerika, penerima Nobel Ekonomi terbanyak kedua adalah Benua Eropa yang didominasi Inggris dengan University of Cambridge (tiga penerima), London School of Economics and Political Science/LSE (satu penerima), selanjutnya Prancis dengan total dua penerima, Norwegia (satu penerima), dan seterusnya.
Sementara, Benua Asia hanya memiliki satu wakil penerima Nobel Ekonomi. Robert J Aumann, seorang pakar matematika dan teori permainan ekonomi dari University of Jerussalem, Israel, menjadi pria Asia satu-satunya yang meraih Nobel Ekonomi 2005 karena penelitian dan kerja kerasnya terafiliasi langsung dengan Asia.
Jika merujuk pada asal lahir, sebenarnya masih ada dua orang Asia lainnya yang dianugerahi Nobel Ekonomi. Hanya saja, kontribusi dan ilmu pengetahuan yang didalami kedua orang ini terafiliasi dengan Amerika Serikat dan Inggris.
Kedua orang yang dimaksud adalah Amartya Sen dan Daniel Kanehman. Sen lahir di India pada 1933 dan meraih Nobel Ekonomi pada 1998 untuk kontribusinya pada ekonomi kesejahteraan yang terafiliasi pada Trinity College, Cambridge, Inggris.
Satu lagi, Kanehman. Pakar ekonomi psikologi yang lahir di Israel pada 1934 dan menerima Nobel Ekonomi pada 2002 ini lebih memberikan kontribusi ilmu pengetahuannya di Princeton University, Amerika Serikat.
Di samping seluruh penerima yang terafiliasi dengan universitas, Nobel Ekonomi juga pernah diberikan kepada dua orang ilmuwan yang ternyata tidak terafiliasi oleh lembaga pendidikan manapun. Mereka adalah Gunnar Myrdal asal Swedia dan Friedrich von Hayek asal Austria.
Keduanya membagi Nobel Ekonomi yang diberikan pada 1974 untuk karya keduanya yang menjadi perintis dalam teori uang dan fluktuasi ekonomi dalam kaitannya dengan makroekonomi.
Enam bidang paling umum yang ditekuni para penerima adalah mikroekonomi (23 penerima/29 persen), makroekonomi (17 penerima/22 persen), riset lintas disiplin (15 penerima/19 persen), ekonometri (12 penerima/15 persen), teori permainan ekonomi (7 penerima/9 persen), dan teori keseimbangan ekonomi (5 penerima/6 persen).
Serba-serbi Nobel Ekonomi
Berbeda dengan kategori perdamaian, Nobel Ekonomi baru pertama kali dibagikan pada tahun 1969 kepada Ragnar Frisch, ilmuwan ekonometrik yang lahir di Norwegia dan berafiliasi dengan University of Oslo, Norwegia.
Adalah Sveriges Riksbank, bank sentral Swedia dan tertua ketiga yang masih beroperasi di dunia, yang pertama kali menggagas ide pemberian penghargaan tertinggi bagi ilmuwan di bidang ekonomi ini.
Sama dengan Nobel Perdamaian, kategori ini juga menggunakan prinsip-prinsip penilaian yang dikeluarkan oleh Royal Swedish Academy of Sciences. Bahkan, dewan penilainya pun sama dengan dewan penilai untuk Nobel Perdamaian.
Hal lain yang membedakan Nobel Ekonomi dengan Nobel Perdamaian adalah rentang usia penerimanya. Usia penerima Nobel Perdamaian termuda adalah 17 tahun (Malala Yousafzai, Pakistan) dan paling tua berusia 87 tahun (Joseph Rotblat, Inggris).
Sementara, untuk Nobel Ekonomi, seluruh penerima sudah berusia di atas 50 tahun, dengan rerata usia 79 tahun. Termudanya adalah Kenneth J. Arrow yang menerima Nobel Ekonomi 1972 saat berusia 52 tahun, dan yang tertuanya adalah Leonid Hurwicz yang menerima Nobel Ekonomi 2007 saat berusia 90 tahun.
Pertanyaan yang paling sering muncul ketika Nobel Ekonomi diumumkan adalah benarkah penentuan Nobel Ekonomi berkaitan dengan tren terbaru dalam analisis ekonomi?
Laman nobelprize.org menyebut, penganugerahan yang selama ini dibuat selalu merefleksikan beberapa karateristik dalam analisis ekonomi pada rentang separuh abad terakhir.
Dan satu hal lain yang penting adalah penganugerahan ini dengan jelas mencerminkan peran dominan dari praktik ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat--ditunjukkan dengan jelas melalui dominasi penerima Nobel Ekonomi dari benua ini dan terafiliasi universitas di daerah setempat.
Lalu, apakah para dewan penilai dengan sengaja memilih penerima Nobel Ekonomi untuk memengaruhi arah pengembangan ilmu ekonomi? Jawabannya tidak. Dewan penilai sejauh ini berusaha untuk menerapkan diversifikasi dalam menentukan penerimanya.
Meski memang, tujuan lain penganugerahan adalah untuk memperkenalkan adanya penelitian atau temuan baru atas ilmu ekonomi yang tengah berkembang pada periode waktu yang sedang berlangsung.
Sebab, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mempraktikan ilmu ekonomi; teori deduktif, teknik verbal maupun matematis, pengujian empiris, observasi mendalam, pemikiran inovatif yang tidak terformat dalam batasan ilmu ekonomi, dan konstruksi hipotesis.
Laman nobelprize.org menyebut, penganugerahan yang selama ini dibuat selalu merefleksikan beberapa karateristik dalam analisis ekonomi pada rentang separuh abad terakhir.
Dan satu hal lain yang penting adalah penganugerahan ini dengan jelas mencerminkan peran dominan dari praktik ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat--ditunjukkan dengan jelas melalui dominasi penerima Nobel Ekonomi dari benua ini dan terafiliasi universitas di daerah setempat.
Lalu, apakah para dewan penilai dengan sengaja memilih penerima Nobel Ekonomi untuk memengaruhi arah pengembangan ilmu ekonomi? Jawabannya tidak. Dewan penilai sejauh ini berusaha untuk menerapkan diversifikasi dalam menentukan penerimanya.
Meski memang, tujuan lain penganugerahan adalah untuk memperkenalkan adanya penelitian atau temuan baru atas ilmu ekonomi yang tengah berkembang pada periode waktu yang sedang berlangsung.
Sebab, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mempraktikan ilmu ekonomi; teori deduktif, teknik verbal maupun matematis, pengujian empiris, observasi mendalam, pemikiran inovatif yang tidak terformat dalam batasan ilmu ekonomi, dan konstruksi hipotesis.
